artikel jurnal
Kumpulan tulisan saya di jurnal nasional maupun internasional. Yang dimuat. Yang ditolak lebih banyak. Percayalah.
Rumah Kata, Rumah Karya

Dari ruang kelas Universitas Airlangga, Ruang Adinata KBRI Singapura, hingga ruang sidang UNESCO Paris, saya belajar bahwa diplomasi adalah seni bercerita lewat karya. Sejak SMP menulis cerita pendek, SMA bergabung di Teater Angin dan sempat jadi wartawan lepas, saya justru berakhir di papan tulis sebagai dosen. Kecintaan pada sinema melahirkan Infis Surabaya, walau akhirnya saya lebih banyak mengkaji film daripada membuatnya. Di kampus, saya merintis International Office UNAIR, membuka pintu dunia dari ruang sederhana. Kini, di UNESCO, saya tetap membawa semangat yang sama: menulis, berkarya, dan percaya bahwa kata & karya dapat menjembatani bangsa.
(masalah dipahami, disukai, atau dibenci, itu urusan nanti)
Kumpulan tulisan saya di jurnal nasional maupun internasional. Yang dimuat. Yang ditolak lebih banyak. Percayalah.
Laporan penelitian dan sejenisnya yang pernah saya buat dan boleh dipublikasikan. Yang lain bukannya rahasia, saya cuman belum nemu aja dimana saya taro…
Tentu, saya pernah dan masih menulis buku. Atau bab dalam buku. Yang memenuhi standar akademis.
Tulis saja begitu. Ada karya non akademis, ada link wawancara, ada macam-macamlah. Saya juga bingung kategorisasinya
Kumpulan tulisan saya yang dimuat di media. Yang ditolak juga banyak. Banget. Juga yang belum sempat saya kliping.
Karya atau dokumentasi dalam bentuk audio visual. Tidak termasuk yang di media sosial. Kalau media sosial, bisa lihat “tentang saya”
⊕
Tulisan saya mengenai isu pendidikan, budaya, media dan teknologi
The AI Action Summit highlighted divides in AI governance; Indonesia must strengthen literacy, funding, and diplomacy to advance inclusive development.
UNESCO mengakui Reog Ponorogo sebagai warisan budaya terancam punah. Indonesia harus memberdayakan Gen Z melalui akses digital, adaptasi, dan partisipasi pelestarian.
75 tahun Indonesia di UNESCO menegaskan pendidikan sebagai fondasi bangsa; transformasi digital menuntut peta jalan inklusif, guru berkualitas, kebijakan antisipatif.
AI Summit 2025 soroti etika dan geopolitik; Indonesia perlu perkuat literasi digital, regulasi, riset, kolaborasi global, demi kedaulatan teknologi.

Genosida jurnalisme menelan nyawa para wartawan di Gaza, sementara epistemisida membunuh cara-cara mengetahui lewat dominasi algoritma dan runtuhnya media independen. Dunia menghadapi krisis ganda: kebenaran dipadamkan oleh peluru maupun bisnis digital. Membela jurnalis berarti mempertahankan kemanusiaan dan demokrasi dari ancaman post-truth global
Pilihan saya Minggu ini
Saya menyukai hal-hal yang membuat hidup saya menjadi lebih berwarna, dalam bentuk foto, film, artikel atau sesederhana apa yang saya lihat dan saya rasa. Saya berbagi pilihan itu, untuk siapapun. Siapa tahu, saya bisa berbagi kesenangan.