Enam puluh delapan pesan WhatsApp dan 14 panggilan tak terjawab menyambut saya ketika terbangun pada Minggu pagi di Paris. Sebagian datang dari keluarga, sahabat, dan kolega di Indonesia. Sebagian lainnya dari grup WhatsApp. Isinya hampir seragam: apakah kami baik-baik saja? Apakah Paris benar-benar sedang rusuh? Ada pula yang mengirimkan video penjarahan dan bentrokan sambil menanyakan apakah peristiwa itu terjadi di dekat tempat tinggal kami. Saya baru menyadari betapa mencekamnya wajah Paris yang dilihat orang-orang dari kejauhan.
Padahal, sehari sebelumnya, Jumat malam, saya bersama ratusan diplomat negara anggota UNESCO masih mengikuti sidang Dewan Eksekutif yang diperpanjang hingga pukul 21.00. Di sela waktu istirahat, kami sempat membicarakan demonstrasi besar yang direncanakan berlangsung keesokan harinya, Sabtu, 17 Oktober. Kami tahu Paris akan menghadapi hari yang tidak biasa. Percakapan juga membahas Gerakan gilets jaunes atau Rompi Kuning, yang muncul pada 2018 sebagai protes terhadap kenaikan pajak bahan bakar, kemudian berkembang menjadi simbol perlawanan masyarakat terhadap ketimpangan ekonomi dan kebijakan pemerintah. Gerakan ini memperlihatkan bahwa di Perancis, persoalan ekonomi sehari-hari dapat dengan cepat berubah menjadi tuntutan politik yang lebih luas. Namun, mungkin tidak seorang pun dari kami membayangkan situasinya akan berkembang seperti yang kemudian terlihat di layar televsi.
\Saya membalas beberapa pesan dengan jawaban yang sama: kami baik-baik saja. Tempat tinggal kami jauh dari lokasi kerusuhan. Semoga, para WNI di Perancis juga baik-baik saja. Sejak Sabtu, kami memilih berada di rumah, mengikuti perkembangan melalui YouTube dan siaran televisi lokal. Namun, semakin lama menyaksikannya, saya merasa bahwa yang sedang berlangsung bukan sekadar kerusuhan di sebuah ibu kota Eropa.
Mobilisasi 17 Oktober tidak muncul tiba-tiba. Dalam beberapa pekan terakhir, pelajar SMA di Perancis telah turun ke jalan mempersoalkan kekurangan guru, kelas yang penuh, ketimpangan pendidikan, hingga sistem penerimaan pendidikan tinggi Perancis. Pemerintah merespons dengan membuka forum dialog dengan para siswa sejak 7 Oktober.
Menjelang 17 Oktober, gerakan pelajar bertemu dengan mahasiswa, aktivis sosial, serikat pekerja, dan sebagian jaringa gilets jaunnes. Ketidakpuasan terhadap biaya hidup dan pelayanan publik ikut memperluas tuntutan. Di Paris, demonstrasi bergerak dari Place de la République menuju Place de Clichy. Sebagian besar peserta menyampaikan aspirasi secara damai. Namun, di sekitar aksi terjadi bentrokan dengan polisi, perusakan, dan penjarahan. Pemerintah Kota Paris mengecam kekerasan tersebut. Penting membedakan mereka yang berdemonstrasi untuk memperjuangkan tuntutan dengan orang-orang yang memanfaatkan keramaian untuk melakukan kejahatan.
Tanggal 17 Oktober sendiri menyimpan sejarah kelam. Saya sendiri juga baru membaca beberapa catatan sejarah mengenai itu. Pada 17 Oktober 1961, ribuan warga Aljazair berdemonstrasi menentang jam malam diskriminatif yang diberlakukan terhadap mereka. Polisi Perancis melakukan penindasan brutal. Banyak demonstran ditangkap, terluka, bahkan terbunuh. Sebagian korban ditemukan di Sungai Seine. Enam puluh lima tahun kemudian, Istana Élysée kembali memperingati tragedi tersebut sebagai bagian dari sejarah Perancis yang harus dihadapi secara terbuka.
Tentu, demonstrasi 2026 tidak dapat disamakan dengan tragedi 1961. Konteks, aktor, dan skalanya berbeda. Namun, tanggal yang sama mengingatkan bahwa jalanan Paris sejak lama menjadi ruang perjuangan politik sekaligus tempat masyarakat menuntut perubahan. Masyarakat pun sudah terbiasa dengan itu. Beberapa kali saya menyaksikan, saat ada demo (biasanya di kawasan tertentu karena sudah menjadi simbol, seperti di Bastile, Nation, Republique), bisa terjadi pemandangan yang terasa sureal saat demo, polisi anti huru-hara mengejar para pendemo, sementara turis dan lokal tetap poenuh terisi pengunjung menikmati kopi-nya.
Perancis memang memiliki tradisi demonstrasi yang kuat. Dari Revolusi Perancis, Mei 1968, gerakan buruh, gilets jaunes atau Gerakan yellow Vest, hingga penolakan reformasi pensiun, jalanan telah menjadi salah satu ruang penting demokrasi. Protes bukan sesuatu yang asing, bahkan menjadi bagian dari cara masyarakat menyampaikan ketidaksetujuan kepada negara. 17 Oktober kemarin, aksi demo yang terjadi di pagi dan siang berjalan dengan aman, ribuan pelajar, mahasiswa, orangtua, guru, serikat pekerja menyampaikan aspirasi dengan damai, bahkan menghibur. Bisa diliat di beberapa tayangan Youtube, demosntrasi berasa seperti festival. Namun, setelah itu, saat eskalasi meningkat menjadi kerusuhan dan penjarahan, saya juga tidak bisa menjelaskan. Hari ini saja semua stasiun TV mendiskusikan hal yang sama. Tentu arah diskusi dari beragam angle, salah satunya dikaitkan dengan pemilu mendatang.
Dari sekian banyak tayangan TV, saya sangat terganggu dengan salah satu tayangan, saya melihat seorang pemilik toko berjuang hampir sendirian menghadapi sekelompok orang yang berusaha menjarah barang dagangannya. Ia berusaha mempertahankan toko games yang menjadi tempat usahanya. Saya tidak mengetahui bagaimana akhir kejadian tersebut. Namun, gambaran itu terus tertinggal dalam ingatan. Apa yang dirasakan seseorang ketika melihat sumber penghidupannya terancam dihancurkan hanya dalam beberapa menit? Banyak pelaku usaha kecil di Paris juga sedang menghadapi tekanan ekonomi, biaya operasional, sewa tempat, serta daya beli masyarakat yang tidak selalu menggembirakan. Mereka bukan pembuat kebijakan pendidikan. Mereka bukan pula penentu kebijakan ekonomi nasional. Namun, mereka justru ikut menanggung akibat kemarahan yang tidak mereka ciptakan.
Dalam hampir dua tahun tinggal di Paris, saya juga sudah mengalami setidaknya dua kali kerusuhan yang dipicu oleh kemenangan Paris Saint-Germain (PSG). Ya, kemenangan. Bukan kekalahan. Logika sepak bola yang selama ini saya pahami rupanya perlu diperbarui. Ketika PSG menang, sebagian orang justru merayakannya dengan membakar mobil, merusak fasilitas umum, dan menjarah toko. Saya sempat berpikir, kalau menang saja perayaannya seperti ini, bagaimana kalau kalah? Lucunya, ketika Perancis kalah di Piala Dunia 2026, , saya tidak menyaksikan kerusuhan besar seperti yang terjadi ketika PSG merayakan kemenangan. Jadi, sampai sekarang saya masih mencoba memahami logika ini: mengapa kemenangan justru bisa berakhir dengan pembakaran mobil dan penjarahan toko?
Tentu, bukan berarti semua pendukung PSG berperilaku demikian. Sebagian besar merayakan kemenangan secara wajar. Tetapi setelah hampir dua tahun di sini, saya masih berusaha memahami satu hal: mengapa kemenangan sepak bola bisa membuat sebagian orang marah kepada etalase toko dan mobil yang sedang parkir? Mungkin memahami masyarakat Perancis memang memerlukan lebih dari sekadar belajar bahasa dan budayanya. Rupanya kita juga perlu memahami logika perayaan yang kadang sulit dijelaskan dengan akal sehat.
Tapi apapun itu, Paris pagi ini perlahan dibersihkan. Saya meloihat beberapa tayangan TV, para pekerja kebersihan kota sudah mulai turun ke jalan sejak pukul 03.00 subuh, membersihkan puing. Semoga aktivitas kota kembali berjalan.
Saatnya saya juga mau hunting foto sih…

Leave a Reply