Paris, 03 Agustus 2026 – Saat merenungi kenapa nama saya aslinya panjang, namun nama panggilan saya singkat sekali
Saya lelah dengan media sosial.
Bukan, bukan karena saya sedang mengalami krisis eksistensial digital. Belum. Setidaknya sampai tulisan ini dibuat. Saya lelah karena media sosial sekarang terlalu banyak. Ada Facebook, Instagram, X, Threads, TikTok, LinkedIn, YouTube, dan entah apa lagi yang akan muncul minggu depan. Masing-masing punya aturan sendiri. Facebook menyuruh kita bercerita. Instagram meminta kita terlihat indah. TikTok meminta kita bergerak. X meminta kita berpendapat dalam tempo sesingkat-singkatnya. LinkedIn meminta kita tampak sukses.
Kalau saya merasa media sosial sekarang terlalu banyak, rupanya saya tidak sedang lebay sendirian. Memang tidak ada sensus resmi tentang berapa jumlah seluruh platform media sosial di dunia, platform datang, pergi, berganti nama, bahkan kadang mati lalu hidup lagi. Ingat Friendster? Kalau inget, KAMU TUA!!
Saya baca di sebuah web data digital yang mencatat bahwa seorang pengguna internet dewasa rata-rata memakai 6,75 platform media sosial berbeda setiap bulan. Lebih mengerikan lagi, per April 2026 terdapat sekitar 5,79 miliar identitas pengguna media sosial aktif, setara 69,9 persen penduduk bumi. UNESCO juga mencatat sekitar 1,5 miliar orang tambahan memperoleh akses ke platform media sosial dan perpesanan hanya dalam periode 2022–2025. Jadi kalau saya lelah menghadapi Facebook, Instagram, X, Threads, TikTok, LinkedIn dan kawan-kawannya, tampaknya itu bukan kelelahan personal. Itu kelelahan global. Bedanya, orang lain mungkin melakukan digital detox. Saya malah bikin blog.
Repot. Lebih repot lagi, satu cerita yang sama harus diperlakukan berbeda di setiap platform. Di Instagram perlu foto bagus. Di TikTok harus ada video. Di X harus dipotong-potong. Di LinkedIn sebaiknya jangan terlalu banyak pisuhan. Catat, sebaiknya. Artinya kalau mau kasih pisuhan ya nggak apa-apa sih. Padahal pisuhan kadang justru inti ceritanya.
Akhirnya saya sampai pada satu kesimpulan sederhana: saya ingin kembali menulis.
Ini mungkin terdengar agak aneh. Ketika hampir semua orang bergerak menuju visual, saya malah berbalik menuju teks. Sekarang manusia memang semakin visual. Kita memotret makanan sebelum makan. Memotret tempat sebelum menikmatinya. Memvideokan konser sampai kadang lupa mendengarkan penyanyinya.
Saya juga begitu. Jangan sok suci. Galeri telepon saya juga penuh foto yang sebagian besar bahkan tidak pernah saya buka lagi.
Tetapi justru karena semuanya menjadi visual, saya merasa perlu mempertahankan satu ruang untuk kata-kata. Foto bisa menunjukkan saya sedang berdiri di depan sebuah gedung. Tetapi tulisan bisa menjelaskan mengapa saya berada di sana, siapa yang saya temui, apa yang kami bicarakan, apa yang saya pikirkan, dan, ini penting, kebodohan apa yang saya lakukan lima menit sebelumnya.
Visual merekam wajah. Tulisan merekam pikiran. Itulah mengapa saya memilih blog.
Blog bagi saya bukan sekadar tempat memindahkan tulisan panjang yang terlalu besar untuk Facebook dan terlalu membosankan untuk Instagram. Blog adalah gudang. Gudang ingatan. Semacam site of memory.
Di sana saya bisa menyimpan potongan kehidupan tanpa terlalu memikirkan apakah algoritma menyukainya. Tidak penting apakah tulisan itu mendapat seribu likes, sepuluh likes, atau malah cuma dibaca saya sendiri ketika suatu hari sedang tidak bisa tidur.
Yang penting tersimpan.
Saya pernah mengalami sendiri bagaimana catatan-catatan kecil yang saya tulis di Facebook dan blog bertahun-tahun lalu akhirnya menjadi bahan sebuah buku. Saat ditulis, cerita itu terasa remeh. Tentang kuliah, pekerjaan, keluarga, orang yang ditemui, atau kejadian bodoh sehari-hari. Bisa unduh di sini ya.
Beberapa tahun kemudian, cerita remeh itu ternyata menjadi sejarah pribadi. Kadang kepengin difilmkan. Tapi saya sadar, cerita saya tidak cukup menarik untuk film. HAHAHAHA.
Masalahnya, ingatan manusia tidak seperti Google Drive. Kapasitasnya memang besar, tetapi sistem pencariannya menyebalkan. Kita sering ingat kejadian dua puluh tahun lalu tetapi lupa tadi menaruh kacamata di mana. Padahal kacamatanya ternyata sedang dipakai.
Karena itu saya menulis.
Apalagi kehidupan saya sekarang semakin dekat dengan aktivitas menulis. Pekerjaan membuat saya harus membaca dokumen, membuat catatan, menyiapkan pidato, menyusun artikel, menulis opini, menanggapi isu, dan sesekali menulis sesuatu yang bahasanya begitu formal sampai saya sendiri harus membacanya dua kali untuk memastikan saya mengerti apa yang saya tulis. Maka blog menjadi ruang yang berbeda.
Di tempat lain saya mungkin harus menulis tentang kebijakan, pendidikan, kebudayaan, diplomasi, teknologi, atau persoalan dunia yang kadang membuat dahi mengernyit. Di blog, saya boleh menulis tentang dunia itu dari mata saya sendiri.
Tidak harus selalu penting. Tidak harus selalu serius.
Karena saya semakin percaya, hidup justru banyak tersusun dari peristiwa yang kelihatannya tidak penting. Percakapan pendek. Perjalanan naik metro. Orang asing yang menyapa. Rapat yang membosankan. Kopi yang terlalu mahal. Kesalahan kecil. Pertemuan yang tidak direncanakan. Hari ini remeh. Sepuluh tahun lagi mungkin tetap remeh. Atau, kalau lagi beruntung, menjadi kenangan.
Dan ketika suatu hari saya ingin melihat kembali perjalanan hidup saya, saya tidak ingin hanya menemukan ribuan foto tanpa cerita. Saya ingin menemukan kata-kata. Karena foto menunjukkan bahwa saya pernah berada di sana. Tulisan mengingatkan saya bagaimana rasanya berada di sana. Itulah sebabnya saya kembali ke blog. Bukan karena media sosial sudah tidak menarik.
Saya cuma ingin punya rumah sendiri di tengah keramaian itu. Rumah untuk kata-kata. Dan, mudah-mudahan, untuk ingatan yang tidak keburu hilang.
— 03082026 —
Leave a Reply