Paris Sedang Libur

Paris, 4 Agustus 2026. Sambil nungguin mesin pemotong kertas yang sibuk mengunyah kertas-kertas arsip jaman purba yang masih disimpan.


Ada satu pengetahuan penting yang baru saya pahami setelah tinggal di Paris. Bulan Juli dan Agustus itu bukan sekadar musim panas. Itu musim menghilang.

Orang Prancis menyebutnya vacances. Saya menyebutnya: hilangnya manusia secara terencana dan dilindungi undang-undang. Secara hukum, pekerja sektor swasta di Prancis memang berhak atas 30 hari kerja atau lima minggu cuti berbayar setahun. Sementara itu, anak-anak sekolah di Paris, yang termasuk Zone C, sudah resmi libur musim panas sejak 4 Juli 2026 dan baru masuk sekolah lagi 1 September. Hampir dua bulan. Anak-anakku keleleran nang omah.

Jadi jangan heran kalau Juli mulai sepi, lalu Agustus semakin sunyi. Bahkan UNESCO ikut memberi tanda-tanda. Kalender resmi UNESCO Archives untuk 2026 terang-terangan menulis Agustus sebagai “SUMMER CLOSURE”. Perpustakaannya pun tutup pada pagi hari selama Agustus.

Nah. Kalau arsip saja boleh berlibur, manusia apalagi.

Akibatnya, kantor mendadak terasa seperti gedung yang baru ditinggalkan penghuninya karena ada wabah zombie. Koridor kosong. Lift kosong. Ruang rapat kosong. Kantor saya memang bukan di markas besar UNESCO. Saya nagntor di gedung beberapa ratus meter dari sana. Bersama ratusan diplomat dari negara anggota Unesco juga. Di mabes kosong, apalagi di kantor saya ini.

Saingan saya datang pagi cuma cleaner. Itu pun kemudian cleanernya cuti.

Jancuk.

Persoalannya, begitu cleaner tidak ada, jiwa lama saya mulai bergejolak. Dulu ketika hidup sebagai mahasiswa di Australia, saya pernah menjalani karier cemerlang sebagai cleaner. Rumah dibersihkan. Kantor dibersihkan. Toilet digosok. Jadi ketika masuk toilet kantor lalu melihat ada bagian yang kotor, tangan saya mulai gatal. “Ah, sedikit saja.”

Lalu saya sadar. “Sek, sek… ngapain aku membersihkan toilet kantor?” Saya buru-buru keluar. Bahaya. Nanti tahu-tahu saya bawa sikat sendiri dari rumah.

Situasi yang sama terjadi di email. Sepanjang Juli-Agustus, inbox saya penuh pesan dari para duta besar dan diplomat negara anggota yang sedang cuti. Ada yang memberi tahu sedang annual leave. Ada yang kantornya tutup beberapa minggu. Ada pula yang tidak memberi tahu apa-apa karena begitu saya kirim email, langsung dibalas mesin: I am currently out of office.

Kalimat paling populer musim panas setelah bonjour. Saya juga out of office. Biasanya jam makan siang. Habis itu masuk lagi.

Kadang saya merasa seperti di-ghosting oleh komunitas internasional. Kirim email Senin. Tidak dijawab. Selasa masih diam. Rabu mulai curiga. Jumat baru sadar: orangnya sedang berjemur entah di pantai mana.

Yang menarik, Paris sebenarnya tidak benar-benar kosong. Orang Paris pergi, turis datang menggantikan. Data resmi Paris je t’aime memperkirakan sekitar 6,4 juta wisatawan berada di Greater Paris selama Juli–Agustus 2025. Tingkat okupansi hotel di kota Paris mencapai 81,5 persen pada Juli dan masih 73,8 persen pada Agustus. Tahun ini paling berkisar segitu juga angkanya. Aku emoh ngitung.

Jadi Menara Eiffel ramai. Louvre ramai. Montmartre ramai. Yang sepi kantor saya. Kadang saya bertahan sampai sore. Bukan karena gila kerja. AC-nya kencang. Di luar 30-an derajat. Di kantor adem. Gratis pula. Prinsip ekonomi sederhana: selama negara belum mengenakan pajak untuk ngadem, manfaatkan. Cuma kalau sudah menjelang sore dan lorong benar-benar sunyi, kadang muncul pikiran lain.

“Ini gedung segede begini masa nggak ada hantunya?”

Kalaupun ada hantu UNESCO, kemungkinan besar dia juga sedang vacances. Dan kalau ternyata tidak? Saya juga tidak terlalu takut. Lha hantunya pasti ngomong bahasa Prancis.

“Bouuuuh… Je suis fantôme…”

Saya jawab saja,

“Mas, ngomong apa sampeyan?”

Mungkin hantunya yang kabur. Males nakut-nakutin saya. Ribet bahasanya.

— 04082026 —


One response to “Paris Sedang Libur”

  1. Jani Purnawanty Avatar
    Jani Purnawanty

    Tulisan Pak Igak selalu segar, out of the box, penuh kejutan dan cubitan tak terduga-duga. Saya ndak expect Excellency jik misuh Suroboyan nang kene! Eh, tapi sudah ada disclaimer di depan kan? “saya menulis sesuka saya.” Yo wis, karepmu. Sing penting saya bisa mesam-mesem terus mbacanya. Ini akan jadi “rumah tunggal” tempat penyimpanan semua tulisannya Pak Igak kah?

Leave a Reply