Fringe: Ketika Jalanan Menjadi Panggung

Ada dua hal yang sejak lama membuat saya ingin datang ke Edinburgh pada bulan Agustus. Pertama, Military Tattoo. Kedua, Edinburgh Festival Fringe. Keinginan ini sebenarnya sudah muncul sejak masa saya kuliah di Australia. Di sana juga ada Fringe Festival. Waktu itu saya baru tahu bahwa istilah Fringe ternyata berakar dari Edinburgh. Saya lalu berpikir, suatu saat harus melihat induknya langsung. Seperti orang suka ayam geprek lalu penasaran siapa sebenarnya yang pertama kali tega menggeprek ayam.

Fringe Edinburgh bermula pada 1947. Saat itu delapan kelompok teater datang ke Edinburgh International Festival tanpa diundang dan tanpa masuk program resmi. Karena tidak mendapat tempat di festival utama, mereka tetap pentas di tempat lain, di “pinggiran” festival. Dari situlah istilah fringe muncul. Pada 1958 dibentuk Festival Fringe Society untuk membantu informasi, program dan penjualan tiket. Menariknya, sampai sekarang prinsip dasarnya tetap sama: Fringe adalah festival open access. Tidak ada kurator pusat yang menentukan siapa cukup bagus untuk tampil. Selama punya cerita dan mendapatkan tempat pertunjukan, silakan maju. Tahun 2026, skalanya sudah agak edan. Selama 25 hari terdapat 4.232 pertunjukan dari 77 negara, 61.277 pementasan di 306 venue, dengan lebih dari 2,8 juta tiket diterbitkan. Itu belum menghitung orang seperti kami yang lebih banyak berkeliaran menikmati pertunjukan gratis di jalan.

Begitu masuk kawasan Royal Mile, rasanya seluruh kota sedang pentas. Ada pemain musik, pesulap, akrobat, pelawak, manusia patung, pemain sirkus sampai pertunjukan yang saya sendiri susah menentukan genrenya. Kadang saya berhenti karena memang tertarik. Kadang berhenti karena orang di depan berhenti. Lama-lama ikut nonton. Begitulah mekanisme kerumunan. Kami sebenarnya sempat melihat daftar pertunjukan di gedung-gedung. Masalahnya, banyak pertunjukan yang kami incar sudah penuh atau waktu pentasnya tidak cocok. Tiketnya juga berbayar. Pada 2026 harga tiket rata-rata sekitar £13, meskipun ada ratusan pertunjukan gratis dan lebih dari 800 pertunjukan dengan skema pay what you want/pay what you can.

Akhirnya jalanan justru menjadi panggung terbaik buat kami. Gratis. Mau berhenti silakan. Mau pergi di tengah pertunjukan juga tidak ada yang melotot. Kalau suka, beri uang secara sukarela. Bahkan Fringe secara resmi mengingatkan bahwa pendapatan utama para seniman jalanan memang berasal dari penonton. Sekarang bahkan tidak selalu perlu uang receh. Sebagian sudah menerima kartu. Pengamen 4.0.

Namun ini bukan berarti siapa saja datang lalu gelar tikar seenaknya. Street Events mempunyai spot khusus. Seniman mendaftar, harus memenuhi persyaratan seperti asuransi tanggung jawab publik dan pertunjukan ramah keluarga. Slot busking sekitar 30 menit, pertunjukan lingkaran 45 menit, dan jadwal harian ditentukan melalui draw. Jadi spontanitasnya tetap ada, tetapi ruang kotanya dikelola.

Yang lebih menarik, bagi banyak seniman Fringe bukan sekadar tempat mencari recehan. Ia adalah etalase. Tahun ini ada 1.864 pelaku industri hiburan dari 63 negara—produser, promotor, pemesan pertunjukan, agen bakat, pengelola festival—datang mencari karya yang bisa dibawa ke panggung lain atau media. Fringe sendiri menyebut salah satu alasan seniman datang adalah mencari eksposur, menguji materi baru, mendapatkan ulasan, dan bertemu industri. Jadi bisa saja hari ini tampil di pinggir jalan, besok dilihat produser, lalu mendapat panggung yang lebih besar. Setidaknya, mereka pulang membawa pengalaman dan portofolio. Jalanan menjadi ruang inkubasi.

Saya jadi teringat Singapura. Di Orchard Road kita juga sering melihat musisi dan seniman jalanan. Tetapi bukan model datang, taruh kotak gitar, lalu teriak sesuka hati. National Arts Council menjalankan Busking Scheme sejak 1997. Sekarang ada sekitar 90 lokasi resmi dan lebih dari 500 aksi busking yang terdaftar. Untuk mendapat izin, seniman mengikuti audisi dengan penilaian kemampuan, interaksi dengan penonton, ekspresi, serta orisinalitas.

Lalu saya membayangkan Jalan Tunjungan di Surabaya. Kita sebenarnya punya tradisi seni jalanan yang jauh lebih kaya. Musik, ludruk, tari, sulap, parikan, keroncong, jaranan, sampai kesenian yang mungkin belum pernah mendapat panggung layak. Kenapa tidak disediakan beberapa titik permanen? Seniman mendaftar, dikurasi, dijadwalkan bergiliran. Setiap kelompok mendapatkan kesempatan. Penonton gratis, tetapi boleh memberi apresiasi langsung. Kalau perlu perusahaan swasta mengadopsi satu titik sebagai sponsor.

Bukan membuat panggung besar setiap minggu. Justru panggungnya jalan itu sendiri. UNESCO juga melihat ruang publik sebagai platform penting bagi kreativitas: seni jalanan, teater, festival dan pertunjukan dapat menghidupkan kembali ruang kota sekaligus menciptakan interaksi sosial dan ekonomi lokal. Kota kreatif tidak selalu membutuhkan gedung baru. Kadang cukup trotoar, sedikit ruang, aturan yang jelas, dan keberanian memberikan panggung kepada orang-orang kreatif. Kalau bagus, orang berhenti. Kalau sangat bagus, orang memberi uang. Kalau beruntung, mungkin ada produser lewat. Ya setidaknya Jalan Tunjungan (tetap) jadi ramai.


Leave a Reply