Manusia tampaknya punya ketertarikan aneh terhadap sesuatu yang besar, megah, dan kelihatannya mustahil dibuat pada zamannya. Piramida Mesir, Sphinx, puri-puri raksasa di Eropa, sampai Borobudur di Indonesia. Begitu melihatnya, pertanyaan kita hampir selalu sama: ngapain dulu bikin beginian? Pakai apa? Kok bisa? Kita sering membayangkan manusia zaman dulu hidup sederhana, peralatannya terbatas, belum ada crane, truk trailer, apalagi YouTube tutorial. Ndilalah, mereka malah bikin bangunan yang ribuan tahun kemudian membuat manusia modern berdiri bengong.
Saya bahkan sampai sekarang masih sering begitu kalau melihat Eiffel. Ngapain dulu Gustave Eiffel bikin menara setinggi itu? Menara pengawas? Ketinggien, Cuk. Munggah angel, mudun males. Ternyata Menara Eiffel memang dibangun untuk Exposition Universelle 1889, sebagai demonstrasi kemampuan teknologi dan rekayasa besi masa itu. Jadi memang bukan menara pengawas. Kalau di Indonesia lebih gampang memahami menara SUTET: tinggi begitu jelas, buat listrik. Eiffel? Awalnya untuk pamer kemampuan teknologi, sekarang orang antre naik dan foto. Manusia memang kreatif.
Stonehenge lebih ajaib lagi. Bayangkan sebuah padang luas di Wiltshire, Inggris. Lalu sekitar lima ribu tahun lalu, orang-orang datang membawa batu-batu raksasa dan menatanya membentuk lingkaran. UNESCO mencatat beberapa batu terbesarnya berbobot lebih dari 40 ton, sementara sebagian bluestones didatangkan dari tempat sejauh sekitar 240 kilometer. Semua dilakukan pada masa sebelum logam dan roda digunakan di Inggris. English Heritage memperkirakan pekerjaan ini membutuhkan ratusan orang, dengan alat sederhana berupa batu pemukul, tali, kayu, dan alat dari tanduk rusa.
Pertanyaannya tentu: ngapain?
Nah, ini yang membuat Stonehenge terus menarik. Sampai hari ini tidak ada satu jawaban sederhana. UNESCO menyebut Stonehenge dan lanskap sekitarnya sebagai bukti praktik seremonial dan pemakaman masyarakat Neolitik dan Zaman Perunggu. Pembangunan serta penggunaannya berlangsung sekitar dua ribu tahun, kira-kira dari 3700 sampai 1600 SM. Susunannya juga berhubungan dengan matahari terbit saat pertengahan musim panas dan matahari terbenam saat pertengahan musim dingin. Jadi ini bukan sekadar orang zaman dulu iseng menumpuk batu karena belum ada Netflix.
Dan benar, Stonehenge memang pernah menjadi tempat pemakaman. Pada fase awal sekitar 3000 SM, lokasi ini digunakan sebagai kompleks kremasi selama beberapa abad. Sekitar 64 kremasi sudah ditemukan, dan English Heritage memperkirakan mungkin sebanyak 150 orang pernah dimakamkan di sana. Jadi lebih tepat menyebut Stonehenge pernah berfungsi sebagai kompleks pemakaman sekaligus ruang ritual dan seremonial, bukan sekadar kuburan.
Pada 1986, UNESCO memasukkan Stonehenge, Avebury and Associated Sites ke dalam Daftar Warisan Dunia. Menurut UNESCO, Stonehenge merupakan lingkaran batu prasejarah yang paling canggih secara arsitektural di dunia. Menariknya, yang dilindungi bukan cuma batu yang biasa kita foto itu, tetapi lanskap arkeologis seluas ribuan hektare yang berisi monumen, gundukan pemakaman, jalur prosesi, dan peninggalan lain.
Di sinilah saya jadi memikirkan urusan pengelolaan Warisan Dunia. Stonehenge relatif lebih “mudah” dalam satu hal: fungsi utamanya pada masa Neolitik sudah tidak berlangsung lagi. Tidak ada lagi orang datang membawa jenazah untuk dikremasi lalu dimakamkan di sebelah batu.
Bayangkan kalau masih ada.
Petugas sedang berkata, “Sorry Sir, you cannot cross the fence.”
Dijawab, “Lha saya mau ngubur simbah saya, kok.”
Bisa panjang urusannya.
Sekarang pengunjung tidak bebas masuk ke lingkaran batu dalam kunjungan biasa. Pembatasan ini juga bukan sejak UNESCO saja. Ketika jumlah pengunjung meningkat tajam, pada 1977 lingkaran batu ditutup dengan pagar untuk mengurangi erosi. English Heritage bahkan mencatat pada dekade-dekade sebelumnya orang pernah menikmati kebebasan yang jauh lebih besar di kawasan itu; ada pengalaman berkemah dalam pandangan Stonehenge dengan izin. Sekarang pengelolaannya jauh lebih ketat.
Tetapi ini juga menunjukkan perbedaan menarik dengan Borobudur. Saya tidak akan mengatakan semua Warisan Dunia di Barat “mati” dan di Timur “hidup”—jelas terlalu menyederhanakan. Stonehenge sendiri sampai sekarang masih mempunyai makna spiritual bagi sebagian kelompok dan akses khusus dikelola pada saat acara tertentu. Namun, situs arkeologis yang fungsi aslinya sudah berhenti memang cenderung memberi ruang lebih besar kepada pengelola untuk menentukan pagar, jalur pengunjung, dan pembatasan akses
Borobudur berbeda. Ia bukan sekadar bangunan abad ke-8 dan ke-9 yang kita pajang sebagai peninggalan masa lalu. UNESCO menyebut Borobudur sebagai salah satu monumen Buddha terbesar di dunia dan juga situs ziarah. Artinya, pengelolaannya harus mempertimbangkan sekaligus konservasi batu, wisatawan, masyarakat sekitar, dan kepentingan keagamaan.
Stonehenge akhirnya membuat saya sadar bahwa Warisan Dunia bukan sekadar perkara menjaga benda tua agar jangan roboh. Yang lebih rumit adalah menentukan hubungan manusia masa kini dengan peninggalan masa lalu. Lima ribu tahun lalu orang mengangkat batu 40 ton untuk alasan yang masih kita perdebatkan hingga kini.
Begitulah peradaban.

Leave a Reply