Paris, 20 Juni 2026. Saat menemukan apartemen lain lebih murah padahal wes kadung bayar.
Saya termasuk orang yang merasa perjalanan itu sudah dimulai jauh sebelum koper dikeluarkan dari lemari. Bahkan kadang lebih lama merencanakannya daripada perjalanannya sendiri.
Perjalanan ke London, Edinburgh, Dublin, Cambridge, Oxford dan Bath misalnya. Sebelum kaki benar-benar menginjak kota-kota itu, jempol saya sudah ke mana-mana. Buka Google Maps. Tutup. Buka Booking.com. Tutup. Buka Trainline. Bandingkan dengan Omio. Lihat Skyscanner. Balik lagi ke Google Maps. Begitu terus.
Kalau dulu orang merencanakan perjalanan dengan peta kertas, buku Lonely Planet, dan bertanya kepada teman yang pernah ke sana, sekarang saya bisa melakukan semuanya sambil tiduran. Sungguh sebuah kemajuan peradaban.
Masalahnya, karena dilakukan sambil tiduran, sering ketiduran juga. Teknologi memang mengubah cara orang bepergian. UNESCO sejak beberapa tahun lalu bahkan melihat teknologi digital sudah masuk ke seluruh siklus perjalanan: sebelum berangkat orang mencari informasi dan melakukan reservasi; selama perjalanan teknologi membantu navigasi dan pengalaman wisata; setelah pulang orang membagikan cerita, foto, ulasan, dan rekomendasi melalui media sosial.
Sekarang skalanya jauh lebih besar. Laporan Digital 2026 Mid-Year Global Update memperkirakan ada sekitar 5,79 miliar identitas pengguna media sosial, setara 69,9 persen populasi dunia. Artinya, kalau kita mencari video “three days in Edinburgh”, kemungkinan besar sudah ada orang yang membuatnya. Bahkan mungkin 700 orang. Dengan musik yang sama.
Dunia aplikasi perjalanan juga dahsyat. Sensor Tower mencatat aplikasi kategori travel diunduh sekitar 4,2 miliar kali sepanjang 2024, sementara waktu yang dihabiskan pengguna di aplikasi perjalanan menembus 20 miliar jam.
Saya mungkin menyumbang beberapa jam di antaranya. Sebab persoalan saya bukan sekadar: mau pergi ke mana? Tetapi: bagaimana pergi semurah mungkin?
London ke Edinburgh naik kereta atau pesawat? Paris ke London Eurostar jam berapa yang murah? Dublin sebaiknya ditempatkan sebelum atau sesudah Edinburgh? Kalau mau ke Cambridge, Oxford dan Bath, apakah lebih masuk akal menginap di London lalu day trip, atau pindah-pindah hotel? Setiap keputusan punya konsekuensi.
Harga tiket kereta pukul 09.00 bisa berbeda dengan pukul 10.00. Hotel yang kelihatannya murah bisa mendadak mahal setelah ditambahkan pajak dan biaya ini-itu. Tiket atraksi kadang lebih murah kalau dibeli jauh hari. Kadang malah ada family ticket. Kadang ada diskon kalau membeli melalui aplikasi. Jadi aktivitas saya bukan lagi travel planning. Lebih mirip perdagangan saham. Lihat harga. Tunggu. Refresh. Naik. Panik. Beli. Besoknya harga turun. Misuh.
Penginapan malah lebih rumit. Saya selalu membuka peta sebelum melihat foto kamar. Sebab hotel bagus tetapi 45 menit dari stasiun itu buat saya bukan hotel bagus. Apalagi kalau harus menyeret koper, membawa anak, naik turun tangga stasiun, lalu berjalan 800 meter. 800 meter di Google Maps kelihatannya pendek. Dengan koper, rasanya seperti ekspedisi menuju Everest Base Camp.
Karena itu saya mencari tempat yang dekat stasiun, halte bus, atau jalur metro. Review dibaca. Foto pengunjung diperiksa. Street View dilihat. Bahkan saya cek lingkungan sekitar: ada supermarket nggak? Restoran? Aman nggak kalau pulang malam? Tetap saja bisa zonk. Saya pernah mengalaminya di Tokyo. Di aplikasi fotonya lumayan. Review juga tidak membuat saya curiga. Sampai di lokasi, ternyata apartemennya tua. Begitu pintu dibuka, ada aroma aneh yang sulit dijelaskan. Bukan bau busuk. Bukan juga bau wangi.
Pokoknya bau yang membuat kita otomatis berpikir, “Di sini pernah terjadi apa?” Lorongnya sunyi. Lampunya temaram. Bangunannya terasa seperti lokasi film horor Jepang. Saya tidak melihat hantu. Tapi rasanya hantunya melihat saya.
Sejak itu saya sadar: teknologi memang membuat perjalanan jauh lebih mudah. Kita bisa mencari tiket, membandingkan harga, membaca ribuan ulasan, melihat lokasi sampai gang depan hotel, bahkan menyimpan seluruh tiket di telepon. Survei IATA 2025 bahkan menemukan 78 persen penumpang ingin smartphone menjadi pusat perjalanan mereka, menggabungkan pembayaran, identitas digital, dan program loyalitas.
Tapi algoritma tetap punya keterbatasan. Google Maps bisa menghitung jarak. Booking.com bisa menghitung rating. Instagram bisa menunjukkan sudut paling cantik. TikTok bisa memberi tahu makanan yang sedang viral. Tetapi belum ada aplikasi yang bisa memberi peringatan:
“Apartemen ini murah dan dekat stasiun. Tapi suasananya agak banyak penunggunya.”
Nah. Kalau ada aplikasi begitu, saya mau bayar versi premium.

Leave a Reply