12 Februari 2025, Saat mencoba mencari Apel Washington di Paris
Saya masih belum bisa tidak ngikik setiap menemukan kata-kata yang membuat salah fokus di Paris. Apalagi kalau sedang keliling naik bus kota. Karena duduk dekat jendela, kerjaan saya ya jelalatan. Rasanya setiap perjalanan selalu ada sesuatu yang baru.
Misalnya, saya pernah menemukan toko bernama Madura. Saya langsung menoleh. Madura? Di Paris? Sayangnya tidak jual bebek goreng atau sate. Lebih mengecewakan lagi, tidak ada tulisan: BUKA 25 JAM. Kurang autentik.
Lain waktu saya melihat tulisan JMP. Otak Surabaya saya langsung bekerja. Jembatan Merah Perancis? Sayangnya JMP versi Paris sedang tutup. Padahal lagi soldes. Atau sale. Pokoknya diskon. Walaupun, mau diskon seberapa besar juga, begitu lihat harga, refleks saya membuka kalkulator mata uang.
Euro. Rupiah. Hitung. Diam. Tutup aplikasi. Lalu misuh romantis dalam bahasa Perancis dialek Suroboyo: “Le jancuque… lha rhangae, Cuque…”
Yang lebih menarik adalah bagaimana Paris berkali-kali mengingatkan saya pada Amerika.
Hubungan Perancis dan Amerika ini memang panjang dan agak mesra. Pada 6 Februari 1778, Perancis dan Amerika Serikat menandatangani Treaty of Amity and Commerce serta Treaty of Alliance. Perancis menjadi sekutu penting Amerika dalam perang kemerdekaannya melawan Inggris. Bantuan tentara, persenjataan dan terutama armada Perancis kemudian sangat penting dalam kemenangan Amerika di Yorktown pada 1781.
Jadi hubungan mereka memang bukan sekadar saling follow Instagram. Sudah lebih dari dua abad. Bahkan pada 2026, saat Amerika merayakan 250 tahun kemerdekaannya, Kementerian Luar Negeri Perancis secara resmi menyebut Perancis sebagai “plus ancienne alliée des États-Unis”, sekutu tertua Amerika Serikat. Pantes mesra.
Monumen paling jelas tentu Statue of Liberty. Selama ini saya suka bercanda bahwa Patung Liberty asli ada di Paris, sedangkan yang di New York itu KW. Ternyata saya hampir benar. Hampir. Yang di New York tetap yang utama. Tapi UNESCO mencatat patung raksasa karya Frédéric-Auguste Bartholdi itu memang dibuat di Paris, dengan Gustave Eiffel mengerjakan struktur logamnya, sebelum dihadiahkan Perancis kepada Amerika dan diresmikan di New York pada 1886. Ville de Paris malah mencatat sekitar 300 lempeng tembaganya dirakit di rue de Chazelles antara 1881–1884, lalu patung tersebut dibongkar dan dikirim ke Amerika dalam sekitar 350 bagian.
Jadi bolehlah saya klaim sedikit: Made in Paris. Assembled in New York. Paris sendiri sekarang punya beberapa versi Liberty. Salah satu yang terkenal berdiri di Île aux Cygnes.
Sebut saja official replica.
Hubungan romantis itu juga terlihat pada nama jalan.
Paris ternyata punya setidaknya lima jalan atau avenue yang memakai nama presiden Amerika: George Washington, Abraham Lincoln, Woodrow Wilson, Franklin D. Roosevelt, dan John F. Kennedy. Kemarin saya menemukan Avenue du Président-Kennedy. Sekarang giliran Rue Washington. Dan lucunya, begitu masuk Rue Washington, George Washington seperti hadir di mana-mana.
Ada Hôtel George Washington. Ada nama-nama usaha memakai Washington. Ada yang memakai George. Ada yang memakai Président. Saya tinggal menunggu menemukan laundry dengan tulisan: “George Washington pernah nyuci di sini.”
Karena penasaran, saya akhirnya googling George Washington. Hasilnya malah lebih lucu. Pertama, Washington memang pernah menyerah kepada pasukan Perancis. Pada 3 Juli 1754, ketika masih menjadi kolonel muda berusia 22 tahun, pasukannya dikalahkan Perancis di Fort Necessity, Pennsylvania. National Park Service menyebut peristiwa itu sebagai satu-satunya penyerahan militer dalam karier Washington. Lebih menarik lagi:
George Washington tidak pernah datang ke Perancis. Menurut Mount Vernon, satu-satunya perjalanan Washington ke luar daratan Amerika sepanjang hidupnya adalah ke Barbados pada 1751. Jadi orangnya tidak pernah datang ke Paris. Tapi namanya punya jalan di Paris. Enak juga. Saya saja sudah datang ke Paris, jalan kaki ke mana-mana, naik bus, naik Metro, kedinginan, masih belum punya gang. Hubungan kedua negara memang unik. Sampai spin-off The Walking Dead pun mengirim Daryl Dixon jalan-jalan ke Perancis. Kurang mesra apa lagi?
Saya kemudian membayangkan bagaimana kalau praktik penamaan jalan semacam ini diterapkan di Indonesia. Rasanya rumit. Nama tokoh dari daerah sendiri saja kadang bisa memunculkan perdebatan sejarah berabad-abad. Apalagi nama presiden negara lain. Bayangkan tiba-tiba ada Jalan George Washington.
Orang pasti bertanya:
“Siapa ini?”
“Presiden Amerika.”
“Pernah ke sini?”
“Ndak.”
“Terus kenapa jadi nama jalan?”
Nah.
George Washington juga mungkin akan menjawab begitu kalau suatu hari bisa jalan-jalan ke Paris. Dia mungkin berdiri di depan papan Rue Washington, melihat kanan-kiri, kemudian berkata:
“Lho?” “Saya kapan pernah ke sini?”
— 18092026 —

Leave a Reply