Lidah Asia di Negeri Fish and Chips

Ada satu kesimpulan yang semakin kuat setiap kali saya bepergian ke luar negeri: dalam urusan makanan, Asia tetap rajanya. Setidaknya bagi lidah saya. Mau restoran berbintang, makanan tradisional, atau hidangan yang namanya panjang sampai susah diucapkan, pada akhirnya saya tetap membayangkan sepiring nasi hangat, lauk berbumbu, dan sambal.

Tetapi setiap bepergian, kami selalu berusaha mencari makanan khas daerah setempat. Prinsipnya sederhana: kalau sudah jauh-jauh datang ke negeri orang, masa makannya tetap nasi goreng? Walaupun, harus diakui, mencari makanan yang benar-benar lokal di kawasan wisata tidak selalu gampang. Kadang restoran yang paling ramai justru menjual makanan yang dianggap turis sebagai makanan khas. Belum tentu itu yang dimakan penduduk setempat sehari-hari.

Di London, tentu saja, perburuan dimulai dari fish and chips. Makanan yang sangat sederhana: ikan berbalut tepung, digoreng, lalu disajikan bersama kentang goreng. Biasanya menggunakan ikan cod atau haddock, ditemani mushy peas, kacang polong yang dihaluskan. VisitBritain bahkan menyebutnya sebagai hidangan nasional Inggris.  Sebagai orang Indonesia, saya sebenarnya tidak asing dengan ikan goreng. Masalahnya, ikan goreng kita biasanya ditemani sambal, lalapan, dan nasi. Di Inggris, temannya kentang. Saya kadang merasa hubungan orang Inggris dengan kentang itu sudah masuk kategori cinta sejati. Mau digoreng, direbus, ditumbuk, atau dipanggang, selalu ada tempat untuk kentang.

Lalu ada pie.

Awalnya saya membayangkan pie seperti yang biasa dijual di toko roti. Ternyata, di Inggris, pie bisa menjadi makanan utama. Isinya bermacam-macam. Ada steak and ale, chicken and mushroom, minced beef, sampai steak and kidney. Di London bahkan ada tradisi pie and mash dari kawasan East End, berupa pie daging dengan kentang tumbuk dan saus peterseli yang disebut liquor. Belasan jenis pie itu membuat saya bingung. Ini makanan atau katalog bangunan? Apalagi beberapa pie penampilannya nyaris sama. Baru ketahuan bedanya setelah dibelah. Mirip kehidupan rumah tangga. Dari luar kelihatan harmonis, isinya belum tentu sama.

Perjalanan berlanjut ke Edinburgh, Skotlandia. Di sinilah petualangan kuliner kami mengalami sedikit gangguan diplomatik. Kami bertanya kepada orang lokal tentang makanan khas Skotlandia yang sebaiknya dicoba. Bukannya mendapat rekomendasi bersemangat, kami malah mendapat peringatan.
“Jangan. Kalian pasti tidak suka.”
Lho?
“Kami sendiri juga tidak suka.”
Lha piye?

Saya datang jauh-jauh ingin menikmati kuliner lokal, malah orang lokalnya sendiri menyarankan jangan. Ini seperti datang ke Surabaya mencari rawon, lalu orang Surabaya bilang, “Ojok, Cak. Aku dewe gak doyan.”

Salah satu makanan khas Skotlandia yang paling terkenal adalah haggis. Hidangan ini dibuat dari campuran daging dan jeroan, oatmeal, bawang, serta rempah. Secara tradisional dimasak dalam lambung domba, meskipun sekarang banyak menggunakan selongsong modern. Biasanya disajikan bersama neeps and tatties, yaitu rutabaga dan kentang tumbuk.  Skotlandia sebenarnya punya banyak pilihan lain. Ada Cullen skink, sup kental dari ikan haddock asap, kentang, dan bawang. Ada Scotch broth, sup jelai dan sayuran dengan daging. Ada pula cranachan, pencuci mulut dari raspberry, oat panggang, madu, dan krim. Kami tetap mencoba makanan setempat. Namanya juga wisata kuliner. Kalau tidak cocok dengan lidah, setidaknya mendapat cerita. Lagi pula, orang lokal yang tidak menyukai makanan tradisionalnya sendiri bukan berarti makanan itu buruk. Bisa jadi memang selera personal. Sama seperti orang Indonesia yang tidak suka durian. Ada kok. Walaupun kadang saya curiga mereka sebenarnya bukan orang Indonesia.

Dari Edinburgh, kami melanjutkan perjalanan ke Dublin, Irlandia. Di sini pengalaman kuliner terasa lebih menyenangkan. Kami menikmati sarapan dan makan siang ala Irlandia. Sarapan tradisional Irlandia ternyata bukan urusan sepele. Full Irish breakfast dapat berisi telur, sosis, bacon, tomat, jamur, kacang, kentang, black pudding, white pudding, dan soda bread. Black pudding sendiri merupakan sosis yang menggunakan darah sebagai salah satu bahannya.  Lengkap sekali. Kalau sarapan begini setiap hari, makan siang mungkin bisa dilewati. Walaupun bagi orang Indonesia, makanan sebanyak itu tetap terasa ada yang kurang. Nasiiii!

Untuk makan siang, Irlandia memiliki hidangan seperti Irish stew, masakan berkuah dari daging domba, kentang, dan sayuran. Sederhana, hangat, dan cocok dengan cuaca setempat. Dan tentu saja, Dublin tidak lengkap tanpa Guinness. Bir hitam yang terkenal itu punya sejarah panjang. Arthur Guinness menandatangani kontrak sewa pabrik bir di St James’s Gate pada 31 Desember 1759. Lamanya bukan main: 9.000 tahun.  Buset. Saya saja kalau memperpanjang kontrak rumah sampai lima tahun sudah harus berpikir panjang.

Perjalanan kuliner ini mengingatkan saya bahwa makanan bukan sekadar urusan kenyang. UNESCO mencatat sekitar 50 praktik kuliner tradisional telah masuk dalam daftar warisan budaya takbenda. Yang diwariskan bukan semata hidangannya, melainkan juga pengetahuan, cara membuat, dan tradisi menikmatinya.  Barangkali karena itulah makanan selalu menjadi bagian menarik dari perjalanan. Kita bisa mengenal sebuah negeri melalui apa yang dimakan penduduknya. Tetapi mengenal tidak selalu berarti jatuh cinta.

Setelah London, Edinburgh, dan Dublin, saya tetap berkesimpulan: makanan Eropa menarik untuk dicoba, tetapi kalau disuruh memilih makanan untuk dinikmati setiap hari, saya tetap memilih Asia. Karena pada akhirnya, sejauh apa pun kita bepergian, ada satu hal yang sulit diajak kompromi.

Lidah.


Leave a Reply