Combo Itinerary: Toko Buku dan Toko Souvenir

22 Agustus 2026. Saat ingat toko buku sudah jadi tempat langka di Surabaya


Dalam urusan jalan-jalan keluarga, pembagian tugas kami sebenarnya sederhana. Istri dan anak-anak menentukan mau ke mana. Saya mencari cara ke sananya. Demokratis. Walaupun kalau dipikir-pikir, posisi saya lebih mirip bagian logistik. Tidak punya hak menentukan tujuan, tetapi kalau salah naik bus, yang disalahkan saya.

Sekarang mencari tempat wisata jauh lebih gampang. Tidak perlu lagi beli buku panduan perjalanan tebal-tebal, membuka peta besar di meja, lalu menandai satu per satu. Cukup buka Instagram, TikTok, YouTube, kadang Facebook. Tiba-tiba muncul video: “Hidden gem in London you must visit!” Anak saya kirim. “Ke sini, Yuk.” Belum selesai saya mencari lokasinya, istri mengirim tempat lain. “Ini bagus.” Lima menit kemudian muncul lagi. “Ini juga.” Akhirnya saya punya belasan hidden gem. Kalau semuanya hidden, saya heran kenapa videonya sudah ditonton jutaan orang.

Prinsip kami kalau jalan-jalan sederhana saja: sebisa mungkin gratis, gampang dijangkau transportasi umum, dan tidak membuat kaki mempertanyakan tujuan hidup. Museum gratis? Masuk daftar. Taman gratis? Masuk. Pasar, jembatan, perpustakaan, gedung tua, jalan terkenal, atau kawasan yang enak untuk sekadar foto-foto? Masuk. Kalau tiketnya mahal, saya biasanya mulai berpikir lebih filosofis. “Sebetulnya dari luar juga bagus.” Kalimat itu sudah beberapa kali menyelamatkan anggaran keluarga.

Di London, Edinburgh, Dublin, Cambridge, Oxford sampai Bath, pola kerjanya kurang lebih sama. Anak-anak dan istri menemukan tujuan dari media sosial. Saya membuka Google Maps. Mulai berhitung. Stasiun terdekat mana? Naik bus apa? Jalan berapa menit? Harus pindah berapa kali? Ada jalur yang sedikit lebih lama tetapi tidak perlu naik-turun tangga? Setelah itu tempat-tempat saya kelompokkan. Jangan sampai pagi ke utara kota, siang ke selatan, lalu sore balik lagi ke utara. Itu bukan wisata. Itu magang jadi kurir.

Media sosial sangat membantu. Banyak tempat menarik justru kami temukan bukan dari daftar “Top 10 Things to Do”, tetapi dari video orang. Gang kecil. Pasar lokal. Sudut bangunan. Taman. Pemandangan dari halte tertentu. Masalahnya, media sosial punya kebiasaan menipu persepsi jarak. Di TikTok, orang keluar stasiun, cut, tahu-tahu sudah di depan kastil. Kelihatannya dekat. Kenyataannya jalan kaki 22 menit. Menanjak pula. Yang membuat video mungkin berusia 21 tahun. Saya tidak. Karena itu Google Maps menjadi alat penting untuk mempertemukan ambisi TikTok dengan kenyataan persendian.

Sistem ini biasanya berjalan baik. Sampai kami bertemu toko buku. Kalau di tengah perjalanan terlihat toko buku, itinerary mendadak kehilangan wibawa. Dua putri saya yang lima menit sebelumnya mengeluh, “Masih jauh?” tiba-tiba punya energi baru. Masuk toko buku, langsung hilang. Satu menuju rak novel, satu menuju manga atau buku anak muda. Yang tadi jalan 500 meter sudah merasa menjadi korban eksploitasi tenaga kerja, mendadak sanggup berdiri satu jam tanpa keluhan.

Ternyata toko buku memang bukan sekadar tempat transaksi buku. UNESCO bahkan menempatkan ekosistem toko buku sebagai salah satu unsur penting dalam budaya membaca sebuah kota. Ketika menetapkan Medellín sebagai World Book Capital 2027, UNESCO mencatat kota itu memiliki lebih dari 110 toko buku dan 25 perpustakaan. Jumlah toko bukunya disebut meningkat 542 persen dalam sekitar tujuh dekade. Rabat, World Book Capital 2026, juga dipilih antara lain karena ekosistem perbukuannya: ada 54 penerbit, pameran buku internasional besar, serta jumlah toko buku yang terus bertambah. Jadi mungkin keluarga saya tidak aneh-aneh amat. Di banyak kota, toko buku memang bagian dari kehidupan kota.

 London diperkirakan memiliki sekitar 160 toko buku independen. Edinburgh, yang menjadi UNESCO City of Literature pertama di dunia, memiliki lebih dari 50. Oxford sekitar 19, Bath 16, dan Cambridge 11. Dublin lebih gawat lagi. Data Booksellers Association yang dihimpun World Cities Culture Forum mencatat 67 toko buku di County Dublin pada 2022. Jadi secara statistik, peluang itinerary keluarga kami buyar memang besar. Salah kami juga. Kok liburannya memilih kota-kota yang toko bukunya banyak.

Lebih berbahaya lagi kalau toko buku itu berdampingan dengan toko souvenir. Ini combo sempurna penghancur itinerary keluarga kami. Anak-anak masuk toko buku. Istri masuk toko souvenir. Saya ditinggal sendiri. Pada titik itu, saya biasanya tidak mencoba melawan keadaan. Saya sudah cukup berpengalaman untuk tahu bahwa kalimat, “Ayo, sepuluh menit lagi kita jalan,” tidak punya kekuatan hukum apa pun. Saya justru mulai melihat sekitar. Ada kafe tidak?

Kalau ada, selamatlah saya.

Saya masuk, cari tempat duduk, pesan kopi atau minuman apa saja yang harganya masih bisa diterima akal sehat. Kadang benar-benar untuk minum kopi. Kadang sekadar duduk. Kadang foto-foto suasana kafenya. Kadang cuma membuka hape, scrolling tanpa tujuan sampai keluarga selesai dengan ritual belanjanya masing-masing. Itulah mungkin bentuk kompromi keluarga paling damai. Anak mendapatkan buku. Istri mendapatkan souvenir. Saya mendapatkan kursi.

Masalahnya, “sebentar” di toko buku dan toko souvenir memiliki definisi waktu yang berbeda dengan dunia normal. Sepuluh menit bisa menjadi setengah jam. Setengah jam menjadi satu jam. Saya sudah selesai minum kopi, sudah foto meja, jendela, cangkir, bahkan orang lewat di depan kafe, tetapi mereka belum juga keluar. Lalu pesan datang: “Tunggu sebentar lagi.”

Kalau sudah begitu, saya membuka itinerary. Melihat jam. Melihat Google Maps. Lalu pelan-pelan mencoret tujuan berikutnya. “Setelah ini masih ke tempat tadi?” Biasanya jawaban saya mulai filosofis lagi. “Besok saja. Masih ada waktu.” Jadilah kami bisa melewatkan museum, membatalkan bangunan bersejarah, atau menghapus dua tempat sekaligus. Tetapi semua keluar dengan bahagia. Anak-anak membawa buku. Istri membawa magnet kulkas, gantungan kunci, tote bag atau benda lain bertuliskan nama kota yang sebenarnya fungsi utamanya mengingatkan bahwa kami pernah ke sana. Saya? Punya koleksi foto kopi dari berbagai kota.

Sejak itu saya sadar, saat membuat rute perjalanan keluarga, informasi penting bukan cuma stasiun, halte bus, harga tiket atau jarak berjalan kaki. Saya juga harus melihat apakah di sepanjang rute ada toko buku, toko souvenir, dan kafe. Kalau ketiganya berada berdekatan, jangan membuat rencana apa pun setelahnya.

Itinerary boleh dibuat dengan sangat detail. Pada akhirnya, keluarga punya algoritmanya sendiri.


1

Leave a Reply