Paris, 21 Juni 2025. Pesan apartemen, seperti jomblo cari pacar. Cari yang bisa dibatalkan sewaktu-waktu.
Salah satu pekerjaan paling melelahkan sebelum bepergian bukan packing. Bukan juga menyusun itinerary. Tapi mencari penginapan. Apalagi kalau pergi sekeluarga. Prinsip saya sederhana: kalau memungkinkan, pilih apartemen. Bukan karena ingin merasakan hidup seperti warga lokal. Itu alasan orang-orang di Instagram. Alasan saya jauh lebih pragmatis: ada dapur dan mesin cuci
Kalau bepergian lebih dari seminggu, mesin cuci itu bisa mengubah peradaban. Baju yang dibawa bisa lebih sedikit. Dapur juga penting. Sarapan bikin sendiri. Roti, telur, kopi, mi, apa saja. Apalagi hotel di Eropa, menurut pengalaman saya, tidak seroyal hotel Indonesia soal sarapan. Di Indonesia, sarapan hotel bisa seperti pesta perkawinan. Nasi goreng ada. Bubur ada. Soto ada. Telur ada. Buah, roti, kue, bahkan makanan yang kita sendiri tidak tahu namanya tersedia. Masuk pukul tujuh, keluar pukul sepuluh dengan keyakinan tidak perlu makan siang. Di Eropa, kadang sarapan harus bayar lagi. Begitu masuk, roti, selai, kopi, telur. Sudah. Saya melihat meja sambil berpikir, “Lha makanannya mana?”
Apartemen memberi kemerdekaan. Bangun pagi bikin kopi. Malam masak mi. Baju kotor masuk mesin cuci. Untuk keluarga, penghematan kecil begitu kalau dikumpulkan lumayan besar. UNESCO bahkan melihat fenomena ini sebagai bagian dari transformasi digital industri pariwisata dan hospitalitas. Airbnb mungkin contoh paling jelas. Dulu, untuk menjadi pemain besar bisnis penginapan, orang harus membangun hotel. Membeli tanah. Membangun kamar. Menyiapkan resepsionis. Sekarang cukup membangun platform yang mempertemukan orang yang punya ruang dengan orang yang mencari ruang. Airbnb sendiri pada dasarnya tidak perlu memiliki apartemen-apartemen yang ditawarkan. Tetapi per Mei 2026, perusahaan itu menyebut memiliki lebih dari 9 juta listing aktif, tersebar di lebih dari 150 ribu kota dan wilayah, dengan lebih dari 5,5 juta host dan telah melayani lebih dari 2,5 miliar kedatangan tamu sejak berdiri. Bisa dibilang, inilah salah satu “jaringan penginapan” terbesar di dunia yang tidak perlu membangun kamar hotelnya sendiri.
Hebatnya transformasi digital memang begitu. Yang dijual bukan gedungnya. Yang dikuasai adalah pertemuan antara pemilik kamar dengan orang seperti saya yang sibuk mencari apartemen murah sambil tiduran. Masalahnya, aplikasi juga melahirkan kosa kata pemasaran yang perlu diterjemahkan secara hati-hati. Salah satunya: “close to city centre.” Saya selalu curiga. Close itu berapa dekat? Lima menit jalan kaki? Dua puluh menit naik bus? Atau dekat kalau dilihat dari satelit? Pernah saya menemukan apartemen yang katanya dekat pusat kota. Dibuka Google Maps, perjalanan hampir 40 menit. Itu bukan dekat center. Itu sudah nyaris masuk kecamatan sebelah.
Karena itu ritual saya selalu sama. Buka aplikasi. Lihat harga. Buka Google Maps. Cek stasiun. Cek halte. Hitung waktu. Kalau murah tetapi setiap hari harus menghabiskan dua jam pulang-pergi, harga murahnya menjadi agak filosofis.
Jebakan kedua adalah lantai. Ada apartemen tertulis second floor. Kedengarannya ringan. Lantai dua. Santai. Sampai tiba di sana baru memahami filosofi penomoran bangunan Eropa. Ada lower ground floor, ground floor, first floor, baru second floor. Secara administratif memang lantai dua. Secara dengkul terasa lantai empat. Apalagi kalau tidak ada lift. Lima lantai membawa koper membuat saya memahami sejarah evolusi manusia. Mungkin nenek moyang orang Eropa kuat-kuat karena sejak dulu tinggal di apartemen tanpa lift.
Foto juga jangan langsung dipercaya. Di aplikasi, ruang tamunya seperti lapangan badminton. Begitu datang, untuk lewat di belakang orang yang sedang memasak harus miring seperti kepiting. Kamera wide-angle memang penemuan hebat. Kamar mandi lebih gawat. Dengan ukuran badan saya, beberapa kamar mandi apartemen Eropa bukan fasilitas sanitasi. Itu tempat latihan fleksibilitas. Membungkuk kena wastafel. Mundur kena pintu. Putar badan harus pakai aba-aba.
Popularitas short-term rental seperti Airbnb akhirnya juga menimbulkan persoalan baru. UNESCO bahkan pernah mencatat kasus Venesia, ketika pertumbuhan pesat penyewaan apartemen melalui Airbnb, Booking dan platform lain menambah tekanan pada pasar dan wilayah kota. Persoalannya bukan semata-mata hotel merasa mendapat pesaing baru. Yang lebih serius adalah persaingan yang dianggap tidak seimbang, perubahan kawasan tempat tinggal menjadi kawasan wisata, dan berkurangnya rumah untuk penyewa jangka panjang.
Karena itu sejumlah kota mulai mengerem. London membatasi penyewaan jangka pendek sebuah rumah tanpa izin perencanaan hingga 90 malam per tahun. Pemerintah kota pada 2026 masih mendorong sistem registrasi yang lebih kuat karena khawatir rumah permanen berpindah ke pasar wisata. Barcelona bahkan berencana tidak memperpanjang sekitar 10.101 lisensi apartemen wisata pada 2028, antara lain karena tekanan terhadap pasar perumahan. Irlandia juga akan memberlakukan registrasi nasional short-term letting mulai Desember 2026.
Jadi Airbnb adalah paradoks perjalanan zaman digital. Bagi wisatawan seperti saya, luar biasa membantu. Lebih banyak pilihan. Bisa masak. Bisa mencuci. Bisa menghemat. Tapi bagi kota, terlalu banyak apartemen wisata juga bisa menimbulkan masalah baru.
Bagi saya persoalannya tetap lebih sederhana. Sebelum menekan tombol book, ada empat hal yang sekarang selalu saya cek: lokasi sebenarnya, mesin cuci, dapur, dan lift. Terutama lift. Diskon 30 persen tidak ada artinya kalau setiap pulang jalan-jalan masih harus mengangkat koper lima lantai.
Itu bukan penghematan. Itu membership gym yang tidak pernah saya minta.

Leave a Reply