London, 30 Agustus 2026. Sambil terkantuk-kantuk naik kereta cepat, dan membayangkan komuter Sidoarjo Surabaya.
Kalau ditanya kenapa selama jalan-jalan kami lebih banyak memilih transportasi publik, jawaban pertama tentu saja sangat filosofis: murah.
Apalagi kalau jalan-jalannya sekeluarga. Selisih lima atau sepuluh pound mungkin kelihatan kecil. Tetapi kalikan empat orang, lalu kalikan tiga kali perjalanan sehari. Tiba-tiba jumlahnya sudah bisa dibelikan makan. Dalam keluarga kami, perhitungan semacam ini penting. Prinsipnya sederhana: kalau bisa naik bus, kenapa harus naik taksi? Selisih uangnya bisa dipakai masuk toko buku. Atau toko souvenir. Biasanya dua-duanya. Tetapi setelah dijalani, transportasi publik ternyata bukan sekadar alat berpindah. Ia malah menjadi bagian dari perjalanan itu sendiri.
London contoh paling gampang. Transport for London mengelola sekitar 9.000 bus pada 675 rute, dengan lebih dari 19.000 halte. Sementara London Underground memiliki 11 jalur, 272 stasiun, dan jaringan sepanjang 402 kilometer. Tube bahkan sudah beroperasi sejak 10 Januari 1863, menjadikannya kereta bawah tanah pertama di dunia. Bus kota London punya sejarah lebih panjang lagi: layanan bus berkuda pertama sudah muncul pada 1829. Jadi, waktu naik bus merah bertingkat di London, sebenarnya kita sedang naik bagian dari sejarah kota.
Awalnya kami masih sering naik Tube. Cepat. Praktis. Tinggal lihat warna jalur, hitung stasiun, turun. Masalahnya, peta Tube itu kadang memberi harapan palsu. Kelihatannya cuma pindah dari satu titik ke titik berikutnya. Kenyataannya harus turun eskalator, masuk lorong, belok, naik tangga, pindah koridor, turun lagi. Sampai peron berikutnya kaki sudah mengajukan surat keberatan. Kapan hari saya kena jebakan betmen, saat mau ketemuan dengan kawan lama di London, turun di stasiun Russel Square. Naik 137 anak tangga, hanya karena lift-nya penuh. Sing mbencekno, pas terengah-engah naik tangga, ada pengumuman dari petugas, dianjurkan naik lift karena tangganya tinggi. Cyuuukk…
Cepat sampai tujuan, memang. Betisnya yang lama sembuh.
Akhirnya di London kami justru lebih menyukai bus. Terutama bus tingkat. Begitu naik, ritual pertama langsung dimulai: berebut kursi lantai dua bagian depan. Kalau dapat, rasanya seperti naik sightseeing bus. Bedanya, tarifnya tarif angkutan umum. Dari lantai dua itu London terasa berbeda. Kita melihat pub, taman, toko, bangunan tua, orang menyeberang, pengendara sepeda, bahkan gang-gang yang tidak pernah muncul dalam daftar 10 Places You Must Visit Before You Die. Kadang perjalanan malah lebih menyenangkan daripada tempat tujuannya.
Kebetulan perjalanan kami Agustus lalu mendapat bonus. Pemerintah kota London dan TfL sedang menjalankan Weekend Hopper, berlaku setiap Sabtu-Minggu dari 25 Juli sampai 31 Agustus 2026. Dengan £1,75, penumpang bisa naik bus dan tram sepuasnya sepanjang hari. Kebijakan itu pas sekali dengan jadwal kami.
Saya juga baru belajar bahwa travelling murah itu membutuhkan riset yang lumayan serius. Cari tiket family, cek off-peak, bandingkan harga, lalu mendaftar Railcard. Untuk keluarga, Family & Friends Railcard memberi diskon sepertiga untuk tiket dewasa dan sampai 60 persen untuk anak usia 5–15 tahun. Jadi hemat itu ternyata bukan bakat. Hemat itu riset.
Bagian perjalanan yang paling mengejutkan justru kereta London–Edinburgh. Saya kira empat jam lebih duduk di kereta akan membosankan. Ternyata sebaliknya. Selepas London, pemandangan perlahan berubah: kota mengecil, hamparan hijau membesar, lalu muncul desa, ladang, pantai dan bentang Inggris utara. LNER sekarang menempuh London–Edinburgh sekitar 4 jam 10 menit pada layanan tercepat. Jarak London–Edinburgh sendiri sekitar 649 kilometer. Empat jam malah terasa kurang.
Soal berapa kilometer perjalanan kami seluruhnya, saya tidak punya rekaman GPS atau histori lengkap tap Oyster dan Leap Card, jadi angka persis akan mengada-ada. Tetapi berdasarkan rute perjalanan London, Edinburgh, dan Dublin yang kami jalani, perpindahan transportasi publik di dalam kota kemungkinan sekitar 100–130 kilometer. Jika perjalanan kereta London–Edinburgh ikut dimasukkan, berarti setidaknya sekitar 750–780 kilometer perjalanan darat. Belum termasuk terbang Edinburgh–Dublin dan Dublin–London, serta Eurostar Paris–London pulang-pergi.
Akhirnya saya mengerti bahwa memilih transportasi publik saat travelling bukan cuma perkara menghemat uang. Kita juga melihat kota dari ketinggian bus, masuk ke bawah tanahnya, duduk bersama orang-orang lokal, salah turun, salah halte, lalu menemukan sesuatu yang sebelumnya tidak direncanakan. UNESCO pernah mencatat bahwa baru sekitar separuh penduduk perkotaan dunia memiliki akses nyaman ke transportasi publik. Transportasi yang baik karena itu bukan sekadar urusan kendaraan, tetapi juga tentang akses terhadap ruang kota dan kehidupan di dalamnya.
Buat wisatawan seperti saya, manfaatnya lebih sederhana. Naik Tube membawa kita cepat ke tempat wisata. Naik bus membuat perjalanan menuju tempat wisata ikut menjadi wisata. Dan kalau dapat kursi paling depan di lantai dua? Itu namanya business class. Tanpa lounge.

Leave a Reply