Paris, 01 September 2026
Ada satu alasan khusus kenapa kami memilih bulan Agustus untuk berkunjung ke Edinburgh, Skotlandia. Bukan karena cuacanya. Bukan pula karena sedang ada diskon tiket. Tetapi karena kami ingin menonton Royal Edinburgh Military Tattoo, pertunjukan musik dan parade militer yang sudah lama sekali masuk daftar keinginan kami. Lama sekali. Tepatnya sekitar 19 tahun.
Kisahnya bermula ketika kami masih tinggal di Australia. Waktu itu istri saya sedang hamil Echa. Suatu malam, kami menonton siaran tunda Edinburgh Military Tattoo di televisi. Ratusan tentara berbaris memainkan alat musik, genderang bertalu-talu, terompet bersahutan, dan tentu saja alunan bagpipe khas Skotlandia. Latar belakangnya Kastel Edinburgh. Megah sekali. Kami kemudian berangan-angan, kapan ya bisa menonton langsung pertunjukan itu? Angan-angan yang sederhana. Tetapi pada masa itu rasanya jauh sekali. Saya masih menjalani kehidupan sebagai mahasiswa di Australia. Istri sedang hamil, sementara saya harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Pagi sampai sore, saya bekerja sebagai tukang tata produk di supermarket. Bahasa kerennya shelf stacker. Akhir pekan, ketika orang lain menikmati liburan, saya bekerja sebagai tukang cuci piring di stadion sepak bola. Saya bekerja demi hidup. Hahaha. Bukan demi melihat tentara Skotlandia meniup bagpipe. Keinginan menonton Military Tattoo itu akhirnya tersimpan begitu saja. Ternyata, 19 tahun kemudian, kesempatannya datang juga.
Agustus 2026, kami tiba di Edinburgh. Pertunjukan tahun ini mengusung tema A Call to Gather, berlangsung pada 7–29 Agustus, menghadirkan lebih dari 800 penampil dari berbagai negara. Ada kelompok musik militer dari Jerman, Amerika Serikat, Selandia Baru, Qatar, dan Inggris. Royal Air Force menjadi matra militer utama dalam pertunjukan tahun ini. Sebenarnya Military Tattoo memiliki sejarah panjang. Cikal bakalnya adalah pertunjukan Something About a Soldier pada 1949. Setahun kemudian, Edinburgh Tattoo pertama digelar di depan Kastel Edinburgh. Waktu itu ada 20 pertunjukan dengan total 100.000 penonton. Pada 1951, acaranya mulai disiarkan televisi, sedangkan kelompok militer asing mulai tampil pada 1952. Gelar Royal baru diberikan oleh Ratu Elizabeth II pada 2010. Yang unik, istilah tattoo ini ternyata tidak ada hubungannya dengan tato di badan. Asalnya dari bahasa Belanda, doe den tap toe, perintah agar pemilik kedai menutup keran bir dan para tentara kembali ke barak. Lama-kelamaan, aba-aba malam itu berkembang menjadi tradisi musik militer. Jadi, asal-usul pertunjukan megah ini ternyata berkaitan dengan urusan menyuruh tentara berhenti minum bir.
Malam pertunjukan tiba. Bersama ribuan orang, kami berjalan menuju arena di depan kastel. Antrean panjang, tetapi tertib. Sampai akhirnya giliran kami diperiksa. Rupanya, beberapa minuman kaleng yang kami bawa harus dibuang. Petugas tidak mengizinkan kami membawanya masuk. Ya sudah. Daripada tiket hangus gara-gara mempertahankan sekaleng minuman, kami menurut. Tetapi begitu berada di dalam, kami melihat minuman dijual di area pertunjukan. Lha, asem! Saya langsung mengembangkan teori konspirasi. Jangan-jangan minuman kami tadi harus dibuang supaya kami membeli lagi di dalam. Tentu saya tidak tahu apakah benar begitu alasannya. Bisa saja memang ketentuan keamanan. Tetapi membuang minuman yang masih bisa diminum tetap terasa menyakitkan. Kami kemudian menuju tempat duduk. Karena membeli tiket paling murah, posisi kami berada di bagian paling tinggi. Ternyata justru menyenangkan. Seluruh arena terlihat jelas. Formasi pasukan bisa dinikmati secara utuh. Bonusnya, suara genderang tidak terlalu menghantam telinga. Saya langsung merasa berhasil menemukan celah dalam sistem kapitalisme pertunjukan.
Pertunjukan dimulai. Satu demi satu kelompok musik militer tampil dengan gaya berbeda. Musik, tarian, permainan cahaya, dan formasi barisan menjadi satu kesatuan. Menariknya, Military Tattoo memang bukan sekadar parade tradisional. Pada 1962, penonton bahkan pernah diajak menari mengikuti lagu Let’s Twist Again bersama para musisi militer. Namun, bagi saya, bintangnya tetap para tentara Skotlandia. Dengan seragam khas, rok tartan atau kilt, serta bagpipe yang suaranya memenuhi udara malam Edinburgh. Ketika dimainkan bersama irama genderang, hasilnya luar biasa. Apalagi dengan latar kastel tua yang diterangi cahaya pertunjukan. Salah satu tradisi khas Military Tattoo adalah Lone Piper, seorang pemain bagpipe yang memainkan musik sendirian dari ketinggian kastel. Tradisi ini sudah ada sejak pertunjukan pertama pada 1950, ketika Pipe Major George Stoddart menjadi pemain pertamanya.
Di tengah pertunjukan, saya teringat malam di Australia, 19 tahun sebelumnya. Malam ketika kami menonton acara yang sama melalui televisi, sementara istri sedang mengandung Echa. Waktu itu kami cuma berangan-angan. Tidak ada rencana perjalanan, tabungan khusus, apalagi tiket pertunjukan. Besok paginya saya masih harus kembali menata barang di supermarket. Sekarang kami benar-benar berada di sana. Anak yang dulu masih berada di dalam perut ibunya sudah besar. Kami juga sudah jauh lebih tua. Tetapi keinginan sederhana yang pernah kami ucapkan malam itu ternyata masih tersimpan. Mungkin inilah salah satu alasan kenapa saya senang mencatat perjalanan. Bukan hanya untuk mengingat tempat yang pernah dikunjungi, tetapi juga perjalanan hidup yang membawa kami sampai ke sana. Sembilan belas tahun.
Dan setelah semua perjalanan panjang itu, tetap saja ada satu hal yang masih membuat saya mangkel. Minuman kaleng kami tadi….

Leave a Reply