London, 22 Agustus 2026, Saat merenung kenapa orang London suka banget Fish and Chips
Ada satu kemampuan London yang menurut saya luar biasa: membuat sesuatu yang sebenarnya biasa saja menjadi luar biasa. Telepon umum, misalnya. Di banyak kota, telepon umum adalah benda yang nasibnya seperti wartel. Dulu dicari-cari, sekarang kalau masih ada malah membuat kita bertanya, “Ini masih hidup?”
Di London, kotak telepon yang teknologi dasarnya sudah kalah telak dengan telepon genggam malah berubah menjadi ikon. Orang antre berfoto di depannya. Termasuk kami. Padahal kalau dipikir-pikir, itu cuma kotak merah dengan telepon di dalamnya. Tetapi London berhasil membuatnya menjadi sesuatu yang lebih besar daripada fungsi asalnya.
Kotak telepon K2 yang dirancang Giles Gilbert Scott pada 1920-an memang punya sejarah desain yang kuat. Model K6 menyusul pada 1935. Historic England bahkan menyebut K6 sebagai salah satu tonggak desain industri abad ke-20. Hari ini, benda yang dulunya dibuat agar orang bisa menelepon itu malah menjadi penanda visual: begitu ada kotak telepon merah, orang langsung berpikir, London.
Sama seperti bus tingkat merah. Bus pada dasarnya adalah angkutan umum. Tugasnya sederhana: mengangkut manusia dari halte A ke halte B. Tetapi di London, bus tingkat menjadi bagian dari identitas kota. Routemaster yang diperkenalkan pada 1954 bahkan sudah lama berhenti menjadi armada utama. Layanan regulernya berakhir pada 2005. Tetapi bentuk dan citranya tetap hidup dalam film, suvenir, miniatur, kaus, poster, sampai desain bus London modern. Transport for London sendiri menyebut Routemaster sebagai cultural icon.
Kami pun ikut menjadi korbannya. Kalau naik bus, targetnya bukan sekadar mendapat tempat duduk. Targetnya: lantai dua. Paling depan. Kalau berhasil, rasanya seperti menang undian. Dengan ongkos bus kota, kami mendapat paket wisata London. Dari lantai dua bisa melihat pertokoan, pub, taman, bangunan tua, orang berlari mengejar bus, sampai turis yang berdiri kebingungan sambil melihat Google Maps. Termasuk saya kalau sedang turun dari bus.
Yang lebih menarik adalah bagaimana London mengemas sesuatu yang sebetulnya merupakan rutinitas pekerjaan menjadi pertunjukan. Changing the Guard, misalnya. Hakikatnya sederhana: petugas lama selesai berjaga, petugas baru menggantikan. Di banyak tempat mungkin cukup begini: “Mas, saya pulang dulu.” “Oke. Aman.” Selesai.
Di Buckingham Palace, pergantian petugas menjadi seremoni lengkap. Ada barisan tentara, inspeksi, marching band, bendera resimen, penyerahan simbolik tanggung jawab, sampai perjalanan pasukan dari Wellington Barracks menuju istana. Prosesi utamanya berlangsung sekitar pukul 11 pagi.
Lalu kostumnya. Tunik merah. Celana gelap. Topi bearskin tinggi besar yang dari kejauhan membuat kepala tentaranya tampak dua kali ukuran normal. Dan jangan salah, mereka bukan pemain teater yang disewa khusus untuk menyenangkan turis. Mereka adalah tentara aktif dari unit-unit Foot Guards. Tradisi penjagaan kerajaan sendiri sudah berlangsung berabad-abad.
Tetapi London memahami satu hal: tradisi menjadi jauh lebih kuat ketika memiliki bentuk visual.
Hal yang sama berlaku pada bangunan. Big Ben, tepatnya Elizabeth Tower, Tower Bridge, Buckingham Palace, Westminster Abbey, Tower of London. Bangunan-bangunan itu tidak hanya dipertahankan sebagai benda masa lalu. Mereka ditempatkan sebagai bagian dari cerita kota. Dipelihara, diberi narasi, difoto, dimasukkan dalam rute wisata, dijadikan magnet kunjungan, lalu direproduksi dalam ribuan bentuk suvenir. Bahkan panduan resmi Visit London menempatkan landmark-landmark tersebut sebagai inti pengalaman mengunjungi kota.
Ada satu kemampuan London yang menurut saya lebih menarik lagi: membuat dunia fiksi seolah-olah benar-benar punya alamat. Harry Potter, misalnya. Secara logika, Platform 9¾ jelas tidak ada. Hogwarts juga tidak ada. Tetapi di King’s Cross Station, dunia fiksi itu diberi ruang nyata. Ada tanda Platform 9¾, lengkap dengan troli yang seolah-olah sedang menembus dinding. Gratis pula untuk difoto. Akibatnya, orang datang, antre, memakai syal asrama, lalu berpose seakan sebentar lagi naik Hogwarts Express. Yang menarik, orang tahu itu fiksi. Tetapi tetap datang.
Sherlock Holmes lebih ajaib lagi. Tokohnya rekaan Sir Arthur Conan Doyle. Tetapi London punya 221B Baker Street, lengkap dengan Sherlock Holmes Museum. Pengunjung bisa masuk ke “apartemen” Holmes dan Dr. Watson, melihat ruang bergaya Victoria, barang-barang yang diasosiasikan dengan sang detektif, lalu tentu saja keluar melalui toko suvenir. Alamat yang berasal dari dunia cerita akhirnya memperoleh bentuk fisik dan ekonomi di dunia nyata.
Di sini batas antara sejarah, sastra, film, dan pariwisata menjadi kabur. Orang tidak lagi sekadar membaca cerita. Mereka ingin masuk ke dalam cerita. Dan kecenderungan itu sekarang bahkan bergerak lebih jauh. Bukan hanya tokoh fiksi atau lokasi yang sengaja dibuat sebagai atraksi, tetapi juga tempat-tempat bekas lokasi syuting. Istilah kerennya sekarang sering disebut screen tourism atau set-jetting: orang sengaja bepergian karena pernah melihat suatu tempat dalam film atau serial televisi.
London punya stok luar biasa untuk itu. St Paul’s pernah menjadi latar Mission: Impossible – Fallout. Tower Bridge muncul dalam Spider-Man: Far From Home. Portobello Road lekat dengan Paddington. Kenwood House diasosiasikan dengan Notting Hill. Houses of Parliament dan Sungai Thames muncul dalam Sherlock Holmes. Jadilah sebuah lokasi memiliki dua kehidupan. Siang hari ia mungkin cuma jembatan, taman, rumah, stasiun atau jalan biasa. Di kepala wisatawan, tempat itu bisa menjadi lokasi tempat Harry Potter lewat, Sherlock Holmes memecahkan kasus, Bridget Jones jatuh cinta, atau Tom Cruise berlari menyelamatkan dunia untuk kesekian kalinya.
Inggris bahkan kini secara sadar mengkapitalisasi fenomena ini. VisitBritain meluncurkan kampanye global “Starring GREAT Britain” pada 2025, dengan film dan serial sebagai pintu masuk untuk mempromosikan destinasi nyata. Riset terbaru mereka menunjukkan sekitar separuh wisatawan yang berkunjung ke Inggris dalam lima tahun terakhir mengaku film atau acara televisi yang menampilkan Inggris sangat memengaruhi keputusan mereka datang. Sebanyak 53 persen melakukan setidaknya satu aktivitas terkait film atau televisi selama perjalanan, sementara 75 persen calon pengunjung menyatakan tertarik melakukan aktivitas semacam itu.
Jadi sekarang bukan lagi hanya, “Di sini pernah tinggal siapa?” Pertanyaannya juga menjadi: “Film apa yang pernah syuting di sini?” Lalu orang datang. Foto. Upload. Beli kopi. Beli suvenir. Pulang.
Saya akhirnya semakin yakin London pintar bukan hanya karena punya banyak cerita. Mereka juga pandai memberikan alamat kepada cerita. Tokohnya boleh fiksi. Adegan filmnya boleh cuma beberapa menit. Tetapi wisatawannya nyata. Dan yang paling nyata tentu saja: uang yang ditinggalkan wisatawan. Mereka tidak selalu menciptakan sesuatu yang baru agar menarik. Mereka mengkapitalisasi memori. Kotak telepon tetap kotak telepon. Bus tetap bus. Tentara tetap tentara. Jembatan tetap jembatan.
Tetapi semuanya diberi cerita, dipertahankan bentuk visualnya, lalu diulang terus-menerus sampai akhirnya menjadi simbol. Orang datang jauh-jauh ke London lalu membeli gantungan kunci berbentuk kotak telepon. Pulang ke rumah, kotak telepon kecil itu digantung di tas. Teleponnya sendiri tidak bisa dipakai. Tetapi ceritanya bisa dibawa pulang. Barangkali di situlah kekuatan London sebenarnya. Kota ini bukan sekadar mempunyai sejarah. London tahu bagaimana membuat sejarah terlihat, dialami, difoto, lalu, tentu saja, dijual kembali kepada kita. Dan kita membelinya dengan senang hati.

Leave a Reply